Selasa, 17 Januari 2012

Warga Berusaha Duduki Bandara El Tari Kupang


Enam suku mengklaim, tanah ulayat mereka diserobot pihak TNI Angkatan Udara.
Selasa, 17 Januari 2012, 11:57 WIB


KUPANG - Ratusan warga mencoba menduduki Bandar Udara El Tari Kupang, Selasa 17 Januari 2012. Warga yang berasal dari enam suku Timor mengklaim, tanah seluas 540 hektar yang kini menjadi lokasi pembangunan bandara dikuasai sepihak oleh TNI Angkatan Udara. Ratusan warga tersebut mendatangi bandar udara El Tari sejak pagi hari.

Mereka berusaha masuk ke bandara, namun dihadang aparat kepolisian dan petugas keamanan PT Angkasa Pura. Aksi ini merupakan yang kedua kalinya dalam sebulan terakhir.

Akibat aksi pendudukan bandara itu puluhan penumpang yang tiba di Bandara sekitar pukul 06.00 wita sempat tertahan di depan pintu masuk Bandara. Para penumpang baru diizinkan masuk ke Bandara setelah petugas memastikan tidak adanya gangguan pengamanan bandara terkait aksi tersebut.

Samuel Saba'at, salah satu kepala suku mengatakan, lahan seluas 540 hektar yang menjadi hak milik enam suku Timor telah dicaplok TNI Angkatan Udara, berdasarkan sertifikat tanah yang dikeluarkan Badan Pertanahan Kota Kupang tahun 1992 tanpa sepengetahuan enam kepala suku. "Tanah kami dicaplok oleh TNI sehingga kami berupaya untuk merebut kembali," katanya.

Menurut Samuel, pihaknya akan terus melakukan aksi unjuk rasa dan apabila tuntutan tidak dipenuhi maka warga dari enam suku yang menjadi pemegang hak ulayat akan menerobos secara paksa ke dalam bandara dan menutup secara paksa.

“Kalau pemerintah tidak merespons tuntutan kami maka kami akan melakukan aksi yang lebih besar,” katanya.

Pekan lalu, ratusan warga melakukan aksi yang sama sambil dan melakukan ritual adat untuk menuntut TNI Angkatan Udara segera mengembalikan tanah mereka. Warga menyembelih seekor anak babi dan darahnya diteteskan disekitar bandara. Upacara adat ini bertujuan untuk mengundang leluhur dari enam suku untuk membantu perjuangan mereka.

Komandan Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Kupang, Letnan Kolonel Navigasi Joko Winarko, yang dihubungi di Kupang membantah tudingan warga yang mengatakan pihaknya mencaplok tanah suku. “Kami tidak mencaplok. Silahkan menempuh jalur hukum. Kami memiliki bukti pemilikan yang sah,” ujarnya. (umi/VIVANEWS)
Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar