Selasa, 07 Februari 2012

Pesawat Intai Tanpa Awak, Penting untuk Awasi Perbatasan Indonesia!

OPINI | 06 Februari 2012 |

Ada hal yang menarik kita simak, bahwasannya pada akhir-akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 ini, rencana keinginan Kementerian Pertahanan untuk membeli alutsista dari luar negeri seharusnya diapresiasikan dengan positif. Mengapa? Karena untuk saat ini teknologi yang memang belum bisa diproduksi dari industri strategis dalam negeri haruslah dicari solusinya. Salah satunya adalah mendatangkan alutsista dari luar negeri. Ini tepat!

Namun yang terjadi ketika Kementerian Pertahanan, dalam hal ini Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sangat berkeinginan memodernisasi alutsistanya menuju kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) alutsistanya tidaklah berjalan mulus seperti yang diharapkan. Nuansa politis yang pasti sangat kental dan menjadi perdebatan panjang di lembaga dewan yang terhormat.

Seperti misalnya rencana pembelian 100 Tank Leopard 2 asal Belanda, yang kini pun menjadi polemik dan hingga kini keputusan untuk membeli Tank Leopard 2 itu masih menggantung, alias belum final. Lalu, rencana Kementerian Pertahanan untuk membeli pesawat intai tanpa awak (unmanned aero vehicle/UAV) lagi-lagi menjadi perdebatan sengit di DPR.

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menegaskan penolakan rencana pembelian Pesawat intai dari Israel karena berasal dari Negara pelanggar HAM. “Alasannya karena Israel selama ini masih banyak melakukan tindakan pelanggaran HAM. Selama ini selalu dikaitkan dengan record pelanggaran HAM,” kata Mahfudz di Gedung DPR, Jakarta.

Mahfud juga menilai Israel masih memiliki masalah dengan negara-negara tetangga. Selain itu Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik Israel. Seperti dikutip dari Jawa Pos, Kamis (2/2/2012).

Berbeda dengan Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin yang memberikan tanggapan tentang rencana pembelian pesawat tanpa awak. Ia menyarankan agar TNI lebih baik memanfaatkan produk dalam negeri daripada berpikir membeli pesawat dari Israel.

Penolakan juga datang dari Wakil Ketua Fraksi PKS Al Muzzammil Yusuf, dimana dia menyatakan bahwa masalah pembelian pesawat dari Israel tak bisa dilepaskan dari kebijakan industri strategis Indonesia yang masih ala kadarnya.

Menurut saya penolakan atas rencana pembelian pesawat intai tanpa awak itu merupakan hal yang wajar dan demokratis. Mengapa? Sebab harus kita pahami bahwa di negara Indonesia yang tercinta ini keputusan apapun yang terkait dengan pembelian alutsista itu masih bernuansa politis. Artinya, bahwa dalam kebijakan TNI dalam membeli ataupun untuk memenuhi kebutuhan alutsistanya itu harusnya mendapatkan persetujuan dari lembaga yang namanya DPR.

Namun yang harus dicermati oleh kita, dalam hal ini DPR yang sangat dihormati. Bahwasanya kita sangat-sangat membutuhkan yang namanya pesawat intai tanpa awak. Lagi-lagi saya katakan wilayah Indonesia yang luas dari Sabang sampai Merauke yang memang harus diamankan wilayahnya. Diamankan wilayahnya itu artinya harus selalu dipantau secara seksama, teliti, dan juga detail.

Nah, untuk mengamankan wilayah kedaulatan Indonesia selama 24 jam itu hanya bisa dilakukan dengan pesawat intai tanpa awak. Ini mujarab loh pesawat intai itu! Sebab mengapa? Satu pesawat intai tanpa awak itu mampu melakukan pantauan di udara selama delapan jam non stop tanpa diketahui secara kasat mata oleh manusia di daratan.

Ketika dilihat dengan kasat mata oleh manusia di daratan, pesawat intai tanpa awak itu kelihatannya seperti layang-layang bahkan tak dapat kelihatan. Dan dalam satu sistem di pangkalan udara itu terdapat tiga pesawat intai tanpa awak. Sehingga apabila pesawat intai tanpa awak itu mendarat, maka akan terbang pesawat intai tanpa awak yang lainnya untuk melakukan pemantauan.

Apa yang dapat dipantau oleh pesawat intai tanpa awak? Pesawat intai tanpa awak itu dapat melakukan atau dapat menfoto dari udara lokasi ataupun setiap lokasi yang dipantau. Selain itu pesawat intai tanpa awak itu dapat melakukan video udara. Menfoto dan melakukan video udara bisa dilakukan secara detail.

Jadi, saya pikir dengan wilayah yang sangat luas, pantaslah bila Indonesia memiliki pesawat intai tanpa awak. Apalagi kejahatan-kejahatan trans-national yang terjadi selama ini di wilayah perbatasan Indonesia seperti illegal logging, illegal fishing dan kejahatan lainnya dapat dipantau secara intensif dari udara. Ingat loh, kerugian Indonesia akan praktek-praktek pencurian tersebut puluhan triliun rupiah dicolong oleh perampok tersebut. Wilayah perbatasan sangatlah cocok apabila ditempatkan pesawat intai tanpa awak. Jadi bolehlah mereka, para anggota dewan berpolemik tentang pembelian pesawat intai tanpa awak, namun yang pasti pesawat intai tanpa awak itu harus dimiliki oleh armada TNI Angkatan Udara Indonesia.

Intinya tepat sekali apabila TNI membeli pesawat intai tanpa awak. Dilihat dari permasalahan yang ada selama ini dalam menjaga kedaulatan NKRI, keamanan wilayah Indonesia dan juga untuk menjaga pundi-pundi kekayaan sumber daya Indonesia agar tidak dicuri pihak-pihak tak bertanggungjawab.

Memang sebelumnya Kemhan punya harapan agar TNI bisa punya pesawat intai tahun 2012 ini. Hal ini disikapi oleh Mabes TNI dengan keinginan untuk membeli pesawat intai (UAV) dari Israel. Dan rencana beli UAV Israel tersebut hanyalah salah satu pilihan diantara pilihan lain yang dimiliki TNI, jadi bukan harga mati seperti yang disampaikan Kapuspen TNI, Marsda TNI Iskandar Sitompul. Seperti dikutip dari Republika, (Rabu,1/2/2012).

Hal ini dipertegas oleh Pihak Kemhan bahwa rencana pembelian pesawat tanpa awak dari Israel bukanlah rencana pasti. Kemhan masih melakukan survei untuk memenuhi kebutuhan UAV di dalam negeri. “Ini belum final, namun Kemhan berharap TNI bisa merealisasikan kebutuhan pesawat intai pada tahun ini,” kata Kapuskom Publik Kemhan, Brigjen TNI Hartind Asrin,seperti dikutip dari Republika,Kamis (2/2/2012).

TNI setidaknya membutuhkan sembilan pesawat tanpa awak untuk mengontrol perbatasan. Pesawat –pesawat tanpa awak tersebut akan dimanfaatkan di wilayah perbatasan Kalimantan-Malaysia dan wilayah perbatasan lainnya.

Harapannya rencana pengadaan itu segera terealisir untuk mendukung TNI AU dalam menjaga kedaulatan Nasional termasuk didalamnya menyangkut perbatasan, yang pasti jangan sampai kita kecolongan atau diobok-obok oleh negara lain yang memiliki teknologi yang lebih canggih.
Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar