Senin, 23 April 2012

Parpol Koalisi Mati Gaya

JAKARTA -- Parpol koalisi yang tergabung dalam Setgab dinilai mati gaya, karena mereka belum tentu bersikap tegas ketika menghadapi parpol besar dalam koalisi. "Mungkin sepertinya pada mati gaya ketika melawan Ical," jelas Anggota Fraksi PKS di DPR, Aboe Bakar Alhabsyi, Ahad (22/4).

Menurutnya, yang dimaksud pada mati gaya adalah orang-orang yang selama ini mencemooh PKS dengan sebutan partai tak paham soal koalisi, tak bermoral, tak berakhlak baik, hingga ada yang bilang tak punya kelamin. Hal itu membuat pihaknya bingung, kenapa ketika PKS berbeda sikap dengan Demokrat, semua lantas berkomentar.

"Semua dengan sengaja mengeksploitasi kita, sepertinya pada ketakutan kalau PKS menjadi partai yang besar, sehingga kita di-downgrade habis-habisan. Ini berbeda sekali ketika PAN dan Golkar berbeda dengan Demokrat, tak ada satu komentar," paparnya.

Dikatakannya, tidak ada yang berani mengeluarkan berbagai lontaran kotor yang dulu dialamatkan kepada pihak PKS. Tidak ada yang berani berstatemen partai tak paham soal koalisi, tak bermoral, tak berakhlak baik hingga ada yang bilang tak punya kelamin.

Pihaknya menanggapi beberapa rekan politisi yang latah mengeluarkan cemoohan terhadap PKS. Pihaknya tidak menyebut pribadi atau orang tertentu. Karenanya, bahasa yang dipakai adalah bahasa jamak, bukan untuk orang tunggal.

Meskipun ada pihak yang tidak senang dengan PKS, Aboe menyatakan SBY masih terus berkomunikasi, karena kualitas hubungan dengan PKS masih baik. "SBY tidak pernah mencederai nama baik PKS," jelasnya. [REPUBLIKA.CO.ID]
Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

1 komentar :

Anonim mengatakan...

MEMANG AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR, MELEWATI BATAS KOALISI ATAU OPOSISI
Hanya pelaksanaannya butuh ketulusan dan keteladanan

Praktek amar ma'ruf nahi munkar tak bisa dibatasi,
oleh posisi persekutuan politik,
apakah itu koalisi atawa oposisi.
Dimanapun posisinya, tugas da'wah
warisan nabi-nabi, harus lanjut.

Amar ma'ruf nahi munkar,
bukanlah kerja pura-pura,
demi raih simpati rakyat.
Tapi tulus, untuk sejahteranya rakyat,
demi ta'at kepada Allah SWT.
Sebagaimana pada kasus penolakan kenaikan BBM.

Amar ma'ruf nahi munkar butuh keteladanan,
dalam melaksanakan ajaran Islam lainnya.
Bukan manis dibibir, sambil memunggungi
perintah dan larangan Allah SWT.
Bukan bibir basah, menyuruh orang tak korupsi,
padahal diwajahnya berbekas dusta,
sambil jadi calo (korupsi) APBN.

Amat besar kemurkaan-NYA,
kepada kelompok yang menganjurkan da'wah
sambil amal-amalnya tak bersesuaian jalan.
Itulah salah satu penghambat,
seruan da'wah.

Maka, tuluslah dan jangan berpura-pura
Jadilah teladan, satukan kata & perbuatan.

غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
"..bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan
bukan (pula jalan) mereka yang sesat"
( QS. al-Fatihah : 7 )

Amiin...

Posting Komentar