Senin, 23 April 2012

TKI Malaysia dan Isu Mafia Perdagangan Organ


Tiga jenazah TKI dipulangkan dengan tubuh penuh jahitan. Ada dugaan organnya diambil.

23 April 2012.
JAKARTA–Kematian tiga tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Barat di Malaysia dilaporkan ke Kementerian Luar Negeri, Senin 23 April 2012.  LSM Migrant Care dan Koslata mencium keanehan terkait tewasnya para korban: Herman (34), Abdul Kadir Jaelani (25), dan Mad Noon (28).
Ketiganya dinyatakan tewas akibat luka tembak. Dalam keterangan kematian, Herman yang bekerja sebagai buruh bangunan dinyatakan meninggal akibat luka tembak di bagian kepala. Sementara Abdul Kadir Jaelani, juga buruh konstruksi disebut tak bernyawa akibat sejumlah luka tembak. Sedangkan Mad Noon yang mengadu nasib sebagai pekerja di perkebunan diberi keterangan kematian, "kesan tembakan berganda". Nyawa mereka melayang usai pamit memancing di sebuah kolam pemancingan, 23 Maret 2012.
Keluarga yang melapor ke polisi dan mencari sampai Rumah Sakit Port Dickson terbelalak melihat kondisi jasad para korban. "Ada jahitan di dada bagian atas, dekat lengan kanan ke kiri, lurus melintang," kata Koordinator Divisi Advokasi Migrant Care, Nurharsono saat dihubungi VIVAnews.com, Senin 23 April 2012. Selain itu, juga ada juga jahitan di dada hingga tengah perut di bawah pusar, yang menyambung jahitan dada atas.
Dan yang paling aneh, adalah kondisi mata terjahit. Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan, tak sepatutnya otopsi dilakukan pada mata. Menyeruak dugaan tubuh mereka dipreteli untuk diperdagangkan.
Apalagi, ini bukan kasus pertama TKI diduga jadi korban perdagangan organ manusia di luar negeri. Kasus paling terkenal adalah pada tahun 1992, saat TKI dipulangkan dalam keadaan tewas dan perut terjahit. "Setelah diotopsi, perut korban diisi kantong kresek," kata Anis Hidayah.
Perwakilan Koslata, Muhammad Soleh menambahkan, sebelumnya juga ada beberapa kasus TKI yang dipulangkan ke tanah air dengan jahitan yang mencurigakan. Dia mencatat, sedikitnya tiga kasus yang terjadi dalam 2 tahun terakhir. "Dua bulan lalu, enam bulan lalu, dan dua tahun lalu, semua mengalami kejadian sama," kata Soleh.
Dia menjelaskan, baru kasus kali inilah yang mengemuka ke publik karena pihak keluarga ingin menuntut kebenaran. Kasus-kasus sebelumnya, ujarnya, tidak menyeruak karena ada keengganan keluarga berurusan dengan pihak berwajib. "Ada ketakutan dari pihak keluarga sebelumnya, khawatir nama mereka terbawa-bawa dalam kasus pembunuhan," jelas Soleh.
Ia juga membantah laporan yang mengatakan ketiga korban tewas akibat ditembak. Menurut dia, tidak ditemukan luka tembakan pada ketiga jenazah. "Pihak keluarga menduga ada organ-organ tubuh mereka yang hilang," kata Soleh.
Selain keterangan yang mencurigakan, fakta bahwa pihak KBRI tidak mendapatkan laporan otopsi yang dilakukan oleh rumah sakit, menambah daftar panjang pertanyaan tak terjawab. Soleh mencurigai, ada permainan antara rumah sakit, polisi dan pemerintah Malaysia pada kasus ini. "Ada indikasi pemerintah Malaysia, rumah sakit dan kepolisian terlibat mafia perdagangan organ tubuh," dia menegaskan.

Untuk itu, Migrant Care, Koslata, dan keluarga korban menuntut dilakukannya otopsi ulang dan penanganan kasus ini secara hukum. "Ini adalah bentuk kriminalisasi pemerintah Malaysia terhadap warga Indonesia.”
Terlalu dini
Dilapori kasus kematian misterius tiga TKI, Kementerian Luar Negeri mengatakan, tuduhan mereka korban perdagangan organ tubuh ilegal, terlalu dini. Saat bertemu Migrant Care dan LSM perlindungan pekerja migran NTB, Koslata, Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Tatang Razak mengatakan, menurut laporan dokumen rumah sakit di Malaysia, bekas jahitan di tubuh korban adalah bekas otopsi.

Menurut laporan kepolisian, ketiga korban tewas setelah tertembus timah panas aparat karena diduga hendak melakukan perampokan. "Menurut keterangan, lima polisi menemukan tiga orang mencurigakan, mengenakan masker dan membawa parang. Polisi menembak ketika mereka hendak menyerang polisi," kata Tatang.

Korban lantas dilarikan ke Rumah Sakit Port Dickson. Tatang mengatakan, berdasarkan undang-undang Malaysia, seseorang yang tewas tidak wajar, harus menjalani proses otopsi. Jadi, lanjutnya, apabila ditemukan bekas jahitan, bisa jadi itu adalah bekas otopsi.  "Laporan KBRI berbunyi 'otopsi dilakukan dengan membuka badan dengan sayatan bentuk Y'," kata Tatang.

Bagaimana dengan dugaan adanya mafia perdagangan organ? "Belum pernah kami mendapatkan laporan adanya penjualan organ tubuh di Malaysia," kata Tatang.

Toh, Tatang mengakui, KBRI di Kuala Lumpur terlambat mendapatkan pemberitahuan dari pihak pemerintah Malaysia. Kejadian tanggal 25 Maret, namun KBRI baru menerima laporan pada 2 April 2012 dari pihak kepolisian dan rumah sakit di Negeri Sembilan. Petugas di KBRI juga tidak melakukan kroscek jenazah, karena dinilai tidak memungkinkan. Tatang mengatakan, akan menunjuk pengacara untuk menyelesaikan masalah ini, dan mendapatkan kejelasan mengenai kasus itu.
Sebelumnya, saat dihubungi  VIVAnews.com, Fungsi Pensosbud Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Suryana Sastradiredja menegaskan hal senada, bahwa jahitan di dada dan perut tiga korban adalah akibat dari proses otopsi yang dilakukan 26 April 2012. Otopsi dilakukan untuk mengetahui apakah sebelum ditembak, korban sempat disiksa. Itu untuk menghindari potensi pihak keamanan digugat kelak.
Namun, Suryana heran. Soalnya mata korban ikut-ikutan dijahit. "Itu yang membuat kami bingung, apakah tembakannya mengenai mata," kata dia. Untuk itulah, KBRI dan pemerintah mendorong adanya otopsi ulang di tanah air, untuk membuktikan apakah dugaan penjualan organ benar atau salah. "Kami dorong otopsi ulang untuk mengetahui benar atau tidaknya ada pengambilan organ," kata dia.
Telusuri dugaan mafia
Dugaan TKI menjadi korban perdagangan organ ikut menjadi perhatian para anggota Dewan Perwakilan Rakyat.  Wakil Ketua Komisi Pertahanan, Tubagus Hassanudin meminta agar kematian tiga tenaga kerja Indonesia di Malaysia, diusut tuntas.
"Bisa jadi itu mafia organ tubuh. Tapi itu harus ada penyelidikan secara internasional tentu saja melibatkan Indonesia dan Malaysia. Ini kasus besar," kata Tubagus di Jakarta, Senin 23 April 2012.

Dia menegaskan, pemerintah harus didesak melakukan investigasi terkait masalah ini. "Ini pelanggaran HAM sangat berat, harus diinvestigasi. Apakah orang itu meninggal lalu bagian tubuhnya diambil, atau dia sengaja dibunuh untuk diambil organnya," katanya.

Selain itu, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga harus ikut andil untuk mengurus hak-hak para TKI itu. "Jadi ada dua sisi, departemen tenaga kerja mengurus hak-haknya (TKI). Kedua, polisi harus mengusut kejahatannya," kata dia.
Sementara, Anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka berharap pemerintah Indonesia melakukan otopsi ulang terhadap tiga jenazah Tenaga Kerja Indonesia yang diduga menjadi korban perdagangan organ tubuh.“Tentu perlu dilakukan otopsi ulang. Komisi IX akan mendesak pemerintah melakukannya,” kata Rieke ketika dihubungi wartawan, Senin 23 April 2012.
Otopsi tersebut penting untuk mengetahui apakah ada organ tubuh yang hilang. “Jika ada organ yang hilang, pemerintah harus aktif dan bekerja sama dengan pemerintah Malaysia. Jangan sampai ini hanya menjadi tanggung jawab PJTKI,” kata politisi PDIP itu.
Penembakan TKI barbar
Tak hanya soal jahitan yang mengundang curiga. Kasus penembakan terharap tiga TKI sekaligus dianggap tak semestinya terjadi.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat menyatakan keberatan atas kasus penembakan sadis oleh Polisi Diraja Malaysia (PDRM) pada 25 Maret 2012 dini hari di kawasan Port Dickson. Meski dengan alasan mereka berusaha menyerang aparat.

"Penembakan di kepala dan juga memberondong peluru ke tubuh korban hingga meninggal jelas tindakan penanganan yang sangat aneh, barbar, sekaligus sadis," kata Jumhur.

Ia mengatakan telah berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur untuk dan memperoleh penjelasan soal peristiwa penembakan tidak berperikemanusiaan itu. "Harusnya kan ada cara lain untuk melumpuhkan para TKI itu dan tidak perlu ditembaki dengan bengis," tegas Jumhur.

Selain keberatan, Jumhur juga protes keras atas tindakan polisi Malaysia karena dianggap terlalu merendahkan nyawa TKI.

Terkait dugaan kemudian jasad TKI itu menjadi korban perdagangan tubuh orang, Jumhur menjelaskan, masih spekulatif.

Karena itu ia mendukung jika keluarga korban mengajukan permohonan untuk otopsi ulang di tanah air terhadap para jenazah TKI yang telah dimakamkan di kampung halamannya pada 6 April 2012.

"BNP2TKI akan memfasilitas keinginan keluarga jika ingin melakukan otopsi ulang terhadap jenazah almarhum, untuk mendapatkan kebenaran ada tidaknya dugaan korban perdagangan tubuh orang," ujar Jumhur. (np)

Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar