Senin, 08 April 2013

Pantaskah 11 Anggota Kopassus Disebut Kesatria?

Senin, 8 April 2013. JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut sebelas anggota Kopassus pelaku penyerangan dan penembakan terhadap empat tahanan LP Cebongan, Sleman sebagai ksatria. Ungkapan tersebut disampaikan Presiden setelah Tim Investigasi TNI AD menyampaikan hasil penyelidikan penyerangan LP Cebongan dan menyatakan bahwa peristiwa itu melibatkan 11 anggota Kopassus. Menurut Presiden, pengakuan para prajurit itu menunjukkan sikap yang ksatria.

Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Golkar Nurul Arifin mempertanyakan label "ksatria" yang disampaikan Presiden untuk 11 anggota Kopassus itu. Menurut Nurul, seseorang bisa disebut ksatria bukan hanya karena mengakui kesalahannya, tetapi juga menegakkan kebenaran.

"Menjadi ksatria tidak cukup dengan mengakui kesalahan. Dia juga harus menegakkan kebenaran dan bertanggung jawab, adil, selalu siap berkorban untuk tegaknya kebenaran dan keadilan," ujar Nurul saat dihubungi Senin (8/4/2013).

Nurul menilai kata "ksatria" memiliki makna yang agung. Makna itu harus terintegrasi dalam jiwa. "Pertanyaannya apakah cukup layak label itu digunakan hanya untuk membunuh preman," kata Nurul.

Selain itu, ia juga mempertanyakan, aksi penyerangan yang dilakukan apakah dilandasi semangat memperjuangkan kepentingan rakyat dengan memberantas preman atau hanya karena balas dendam.
"Jika tindakan extra judicial dibenarkan, maka sesungguhnya negara ini sedang krisis hukum," katanya.

Sebelumnya, Tim investigasi TNI Angkatan Darat mengungkapkan hasil temuannya bahwa 11 anggota Kopassus terlibat dalam kasus penyerangan LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta beberapa waktu lalu. Di dalam peristiwa itu, empat orang tahanan tewas ditembak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun angkat bicara atas hasil temuan investigasi TNI tersebut. Presiden mengapresiasi para pelaku penyerangan itu. Para prajurit Komando Pasukan Khusus Grup II Kandang Menjangan, Kartasuran, Sukoharjo, Jawa Tengah, itu dinilai telah bersikap kesatria.

"Para prajurit tampil bertanggung jawab, kesatria, dan siap menerima sanksi hukum apa pun. Bagi saya itu melegakan, itu sifat kesatria, bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Itulah prajurit sejati yang harus ditunjukkan kepada seluruh rakyat Indonesia," kata Presiden di Istana, Jumat (5/4/2013) lalu.

SBY menilai penyerangan Cebongan merupakan bentuk semangat korsa dari prajurit TNI. "Ada perilaku dari sekelompok orang, di luar disebut kelompok preman, yang dengan sadis membunuh seorang bintara Kopassus TNI AD," katanya.

Meski demikian, SBY menilai tindakan para prajurit itu tak dapat dibenarkan. (kompas)


Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar