Senin, 06 Mei 2013

Komisi I DPR Tak Tahu Informasi Soal Hambali

Senin. 6 Mei 2013. Jakarta - Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia yang membidangi masalah luar negeri dan pertahanan mengaku tidak tahu informasi terbaru soal Hambali, warga negara Indonesia yang ditahan di Penjara Guantanamo, Kuba. Soal nasib Hambali jadi pembicaraan setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama berjanji lagi untuk menutup penjara itu, Selasa 30 April 2013 lalu. “Komisi I tidak punya informasi apa-apa terkait Hambali. Setelah dia ditahan di Guantanamo, tidak ada informasi sama sekali tentang perkembangan Hambali seperti apa kondisinya seperti apa, dan penyelesaian hukumnya seperti apa,” Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq saat dihubungi Tempo, Minggu 5 Mei 2013. Meski demikian, Mahfud menyambut baik rencana penutupan penjara yang dipakai untuk memennjarakan para tersangka teroris itu. “Kita menyambut baik rencana penutupan penjara Guantanamo,” kata Mahfudz. Obama telah menjanjikan penutupan Guantanamo atau yang kerap disebut sebagai Gitmo itu sejak pertama kali dilantik sebagai Presiden. Karena itu, kata Mahfudz, sudah sepantasnya di masa jabatan kedua yang menjadi masa jabatan terakhirnya ini, agenda tersebut harus direalisasikan. Termasuk dimungkinkannya ekstradisi para tahanan-tahanan itu ke negara masing-masing. Namun ia menambahkan, masalah Hambali juga tidak pernah dibahas dalam rapat kerja Komisi I dengan Kementerian Luar Negeri. Komisi I, kata Mahfudz, lebih menitikberatkan perhatian pada penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan yang terjadi di penjara Guantanamo. Menurut Mahfudz, sosok Hambali sendiri masih misterius, apakah dia benar-benar teroris yang punya jaringan internasional atau agen yang dibina pihak tertentu. “Kita tidak tahu, serba spekulasi. Hambali pernah di Indonesia tapi tidak pernah menjalani proses hukum di Indonesia,” katanya. Dia berharap dengan penutupan Guantanamo akan banyak hal-hal yang akan terungkap. Hambali alias Riduan Isamuddin adalah satu-satunya warga Indonesia dari 166 tahanan di Guantanamo. Ia ditahan sejak 7 tahun lalu. Amerika menyebut pria kelahiran 4 April 1964 itu terlibat pengeboman gereja tahun 2000, Bom Bali 2002, serta memimpin Jemaah Islamiyah dan menjadi kontak al-Qaeda di Asia Tenggara. Hambali ditangkap di Thailand, 11 Agustus 2003, dalam operasi militer Gabungan Amerika Serikat-Thailand. Amerika mengkategorikannya sebagai tahanan berisiko tinggi. TEMPO.CO,
Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar