Selasa, 18 Februari 2014

Penyadapan AS karena Perusahaan Telekomunikasi Dikuasai Asing


Jakarta: Indonesia kembali disebut menjadi korban penyadapan negara lain. Kali ini, Indonesia muncul dalam pemberitaan terkait skandal penyadapan oleh Badan Keamanan Nasional Amerika (NSA) Amerika Serikat terhadap praktik firma hukum Amerika.

Menurut Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq, salah satu faktor penyebab Indonesia dengan mudah disadap pihak asing seperti AS dan Australia ialah karena kepemilikan operator telekomunikasi Indonesia sebagian besar dikuasai oleh asing. AS melalui NSA itu memiliki kepentingan untuk melakukan intelijen informasi. Ia menduga hal itu tidak dilakukan AS sendiri melainkan menggandeng negara lain. 

Menurut Siddiq yang perlu diperhatikan adalah proses intelijen sinyal itu dilakukan dengan memanipulasi proses komunikasi informasi melalui operator telekomunikasi di Indonesia. Sehingga apabila sebagian operator telekomunikasi Indonesia dikuasai asing, maka negara kita dalam posisi yang sangat rawan.

"Maka saya mengkritisi liberalisasi kepemilikan perusahaan telekomunikasi di Indonesia, di mana berbagai negara sangat ketat dan protektif terhadap hal itu. Contohnya, Indosat dan Telkomsel. Sekarang ada proses merger XL dan Axis, dimana XL ini kan punya asing. Jadi, semakin banyak penguasaan asing membuat Indonesia makin rawan," ujar Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen.

Mahfudz menilai, untuk mencegah penyadapan, proteksi bisa dilakukan dengan mengembangkan sistem persandian nasional. Hal itu, menurutnya, harus ada akselerasi dalam pelaksanaannya. Namun, ia melihat pemerintah belum benar-benar bersungguh-sungguh untuk realisasi tersebut. 

Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar