Rabu, 27 Mei 2015

Mahfudz Siddiq: Reshuffle Seperti Bunuh Bayi Usia 6 Bulan


Jakarta - Politikus PKS Mahfudz Siddiq menilai saat ini belum saatnya Presiden Joko Widodo mengganti semua pembantunya di Kabinet Kerja. Ibarat bayi, kabinet Jokowi baru berusia 6 bulan. Karena itu apabila dilakukan reshuffle, maka sama saja dengan membunuh bayi usia 6 bulan.

"Itu sama saja presiden akan membunuh bayi (menteri) usia 6 bulan," tegasnya.

Ketua Komisi I DPR ini mengingatkan, jangan sampai reshuffle dilakukan karena dorongan persepsi publik yang menyatakan solusi dari persoalan ekonomi dan politik adalah pergantian anggota kabinet. Apalagi, rencana ini muncul di tengah tren penurunan ekonomi nasional dan masih ruwetnya konsolidasi politik setelah dilantiknya Jokowi sebagai presiden.

Menurut Mahfudz, harus dipahami bahwa semua kementerian dan lembaga baru berusia 6 bulan. Penataan organisasinya masih belum tuntas akibat lambannya proses pengambilan keputusan dan kuatnya tarik-menarik kepentingan.

Orientasi dan fokus kerja pun masih dalam konsolidasi. Misalnya, penyesuaian rencana kerja kementerian dan lembaga tahun 2015 dengan visi Nawa Cita Jokowi.

"Dan lebih penting lagi, anggaran kementerian dan lembaga yang dituangkan dalam APBNP 2015 baru saja keluar DIPA-nya bulan Mei ini,” tambahnya.

Mahfudz menjelaskan, berdasarkan data Bank Indonesia menyebutkan melemahnya pertumbuhan ekonomi salah satunya karena melemahnya konsumsi pemerintah. Disamping itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan laju pertumbuhan domestik bruto (PDB) dari komponen pengeluaran konsumsi pemerintah minus 48.68 persen pada kuartal 1/2015 dibandingkan dengan akhir 2014.

"Jadi, menurut saya, ide reshuffle tidak akan jadi solusi melainkan justru menambah persoalan baru. Bahkan yang sebenarnya harus dievaluasi adalah kinerja Presiden Jokowi sendiri dalam 6 bulan ini, yaitu seberapa efektif dia mengelola kabinetnya," tegas Mahfudz.

Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar