Rabu, 10 Juni 2015

DPR Yakin TNI Telah Punya Strategi Hadapi Isu Keamanan Global


JAKARTA -- Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq yakin TNI telah mencermati isu dan perkembangan kondisi pertahanan serta keamanan global sehingga institusi tersebut membuat proyeksi program dalam menghadapi tantangan tersebut.

"Kami yakin TNI pasti sudah mencermati dan membuat proyeksi-proyeksi bagaimana menghadapi (tantangan isu global) melalui program kerja di tahun mendatang," katanya di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Jakarta, Senin (8/6).

Mahfudz melanjutkan, sebelum melaksanakan Rapat Kerja dengan Panglima TNI Jenderal Moeldoko di Ruang Rapat Komisi I DPR RI yang berlangsung tertutup. Ia menjelaskan Komisi I DPR RI telah melakukan kunjungan kerja dan rapat dengar pendapat dengan para Duta Besar Indonesi di beberapa negara di Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Dari kunjungan itu, katanya, didapatkan kesimpulan bahwa apa yang sedang terjadi di kawasan akan meningkatkan tensi ketegangan politik dan militer yang semakin mengkhawatirkan.

"Pada saat yang sama tren persoalan-persoalan ekonomi di kawasan juga semakin serius," ujarnya.

Mahfudz menjelaskan kondisi itu bisa menimbulkan ledakan-ledakan persoalan yang tidak bisa dikalkulasikan dan tidak bisa diprediksi secara tepat kapan waktunya. Menurut dia dari pandangan yang berkembang di kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, isu Laut China Selatan dan kompetisi peningkatan militer sejumlah negara, semakin mencolok.

"Termasuk dinamika di kawasan Timur Tengah, dan Ukraina akan menimbulkan goncangan politik dan keamanan semakin serius," katanya.

Dia menilai meskipun Indonesia tidak menjadi bagian dari konflik tersebut namun sangat mungkin menjadi salah satu bagian wilayah yang terdampak secara politik, ekonomi, dan keamanan. Menurut dia apabila dinamika tersebut menimbulkan ledakan maka Indonesia harus memiliki kesiapan yang tepat.

"Upaya-upaya kita untuk meningkatkan kemampuan TNI sebagai institusi pertahanan negara termasuk yang sudah dilakukan seperti peningkatan kapasitas Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) melalui program 'Minimum Essential Force'," katanya.

Selain itu, menurut dia, dilakukan peningkatan profesionalisme prajurit TNI termasuk pengembangan dan pengolohan pemahaman keamanan nasional. Ia menjelaskan apabila dilihat perkembangan dinamika kawasan maka semua itu menunjukkan urgensinya.
REPUBLIKA.CO.ID,
Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar