Selasa, 16 Februari 2016

Sikapi Fenomena LGBT, Ketua Komisi I DPR: Apakah Indonesia Ingin Mengulang Sejarah Kaum Luth?

Sikapi Fenomena LGBT, Ketua Komisi I DPR: Apakah Indonesia Ingin Mengulang Sejarah Kaum Luth? 6 hari lalu | 585 views
Jakarta – Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengkritik akademisi-akademisi yang membela mati-matian LGBT. Dia khawatir fenomena LGBT ini akan membawa Indonesia pada kehancuran moral.

“Menjadi aneh jika misalnya ada tokoh akademisi yang justru membela mati-matian perilaku LGBT. Di kampus, bahkan seperti UI, gerakan eksistensi LGBT juga gencar. Apakah bangsa Indonesia ingin mengulangi sejarah bangsa Sodom di zaman Nabi Luth?” kata Mahfudz kepada awak wartawan, Rabu (10/02).

Dalam agama Islam, Nabi Luth adalah utusan Allah untuk negeri Sodom. Kaum negeri Sodom dikisahkan melakukan hubungan seksual sejenis. Kaum Sodom lalu diazab dengan hujan batu.

Ketua komisi I DPR ini juga mengkritik penyebaran stiker gay di aplikasi chatting LINE, dan Whatsapp. Mahfudz mempertanyakan pemerintah yang belum bersuara soal isu stiker gay ini. Pemerintah harusnya melakukan pencegahan, tak membiarkan stiker ini lolos di ruang internet Indonesia, sebab LGBT ini merupakan penyakit sosial yang sangat berbahaya.

“Jargon revolusi mental harusnya menjadi visi pemerintah dalam menyikapi masalah LGBT. Lalu dengan kewenangannya lakukan langkah-langkah nyata dalam pencegahannya,” ujarnya.

Politikus PKS itu mengatakan virus LGBT sudah sangat massif di kalangan generasi muda Indonesia. Seharusnya hal ini menjadi perhatian bersama, dan perlu ada aksi pencegahan agar generasi muda Indonesia tak ikut-ikutan fenomena LGBT.

Mahfudz mencontohkan pemerintah Rusia yang memiliki UU yang melarang perilaku LGBT, termasuk perkawinan sesama jenis. Lembaga pengawas penyiaran di Filipina juga melarang promosi LGBT di semua media penyiarannya.

Yang terjadi saat ini, penyebaran virus LGBT perilaku LGBT sering ditampilkan di media televisi. Media sosial juga digunakan sebagai sarana promosi.

“LGBT harus dipandang bersama, baik pemerintah maupun masyarakat, sebagai penyakit sosial yang sangat berbahaya. Semua bentuk promosi dan pembelaan terhadap perilaku LGBT harus dihentikan. Termasuk melalui berbagai sarana penyebaran massal, seperti melalui media massa dan media sosial,” pungkasnya.

Bagikan berita/artikel ini kepada teman melalui :

0 komentar :

Posting Komentar